oleh

Ditahan Kasus Curi HP, Pasutri Ngaku Disarankan Oknum Penyidik Sediakan Uang Sebesar Rp.35 Juta

-POLRI-13 views

Teks Foto: Tersangka Siti Nuraisyah Saat Didampingi Kuasa Hukumnya, Roni Prima Panggabean, SH CLA (kiri) Saat Memberi Keterangan di Mapolsek Tanjungmorawa, Jalan Lintas Sumatra, Kabupaten Deliserdang, Kamis (28-01-2021).

GO MEDAN –  Pasangan Suami Istri (Pasutri), Muhammad Fajar (25) dan Siti Nuraisyah yang dijadikan tersangka kasus pencurian satu unit (1) Handphone mangaku disarankan oknum anggota polisi di Mapolsek Tanjung Morawa jajaran Polres Deli Serdang menyediakan uang sebanyak Rp.35 juta untuk biaya perdamaian dan cabut perkara.

Loading...

Menurut keterangan Siti Nuraisyah warga Jalan Rahmadsyah, Gg Sekolah kepada awak media kejadian itu berawal saat ia dan suaminya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dengan alasan melakukan pencurian sebuah telepon genggam yang ditemukan sebelumnya di Pusat Perbelanjaan.

Diceritakan, tanggal 26 Desember 2020, Siti dan suaminya sedang belanja di Plaza Suzuya untuk hunting diskon.

Saat di tempat bagian celana, Pasutri tersebut menemukan satu unit handphone Android tak bertuan. Handphone itu kemudian diambil, lalu mereka menunggu sampai pemiliknya datang.

Setelah sekian lama menunggu tak ada yang cari, usai berbelanja, Siti dan suaminya pun memutuskan pulang ke rumah.

“Tapi karena sudah larut malam dan tidak ada juga orang yang datang ngambil, handphone itu kemudian saya bawa pulang ke rumah dengan harapan ada orang yang menelpon,” ujar Siti, Kamis (28-01-2021) sore.

Setelah empat (4) hari kemudian atau pada tanggal 30 Desember 2020, seorang wanita mengaku bernama Yunita menghubungi Siti mengaku dirinya kenal pemilik handphone dan menyebut teman suaminya.

Kemudian Siti meminta nomor handphone pemilik android yang dia temukan kepada Yunita.

“Yunita lalu menghubungi yang namanya Gifari, menuduh kami mencuri HP nya di Suzuya. Kemudian saya meminta nomor yang bersangkutan (Pemilik handphone), niat saya biar saya kembalikan,” ucapnya.

Setelah satu minggu atau tepatnya pada 6 Januari 2021, Siti kemudian hendak mengembalikan handphone tersebut, lalu nomor HP yang ujungnya 555 itu menyarankan agar ia dan suaminya datang ke Polsek Tamora.

“Selama beberapa hari komunikasi, dia tidak ada bilang kalo itu handphone dia. Sampai di Polsek Tamora, saya langsung disuruh beri keterangan di ruang juper pada 6 Januari. Saat itu juga saya ditahan,” katanya.

Ternyata nomor handphone dengan ujung 555 tersebut milik oknum anggota Polri yang bertugas di Polsek Tanjung Morawa atas nama Musliadi Tanjung,” terang Siti.

Di kantor polisi, Siti menyebut, ia dan suaminya juga diintimidasi petugas untuk mengakui telah mencuri handphone tersebut.

Bahkan, petugas di Polsek Tamora meminta Siti dan suaminya menyiapkan uang Rp 35 juta agar persoalan itu diselesaikan secara kekeluargaan.

“Juru periksa (Juper) yang memediasi minta Rp 20 juta dan cabut perkara Rp 15 juta dengan total uang yang harus disiapkan sebanyak Rp 35 juta.

Saya kaget, nih handphone yang saya temukan tidak segitu harganya. Niat saya bagus mau mulangkan handphone, kok malah seperti ini.

Tuduhan mereka handphone itu saya matikan, padahal handphone tidak ada saya matikan,” beber Siti.

“Di dalam BAP saya dipaksa untuk mengaku mencuri. Lalu pada 9 Januari 2021 saat saya dipulangkan untuk penangguhan, helm dan celana hilang,” ucapnya.

Atas hal itu, Siti dan suaminya meminta Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin untuk memberikan mereka perlindungan hukum.

Sebab, kata Siti, niat hanya ingin menyelamatkan handphone dan mengembalikan kepada yang punya, namun mereka malah ditahan.

“Tolong pak, saya niatnya bukan mencuri. Kalau saya mencuri sudah saya buang kartunya pak. Pak Musliadi Tanjung ternyata bukan yang kehilangan handphone, malah dia yang menangkap kami,” ujarnya.

Sementara itu, kuasa hukum korban Roni Prima Panggabean, SH CLA didampingi Jhon Sipayung, SH mengatakan, permainan petugas Polsek Tanjung Morawa kasar.

Niat korban untuk mengembalikan handphone yang ditemukan, malah berujung penahanan.

“Yang menjadi dasar hukumnya kenapa Polsek Tanjung Morawa menahan korban atas tuduhan pencurian dengan pemberatan. Polisi itu penolong masyarakat. Terkait hal ini, Kami akan melaporkan ke Bid Propam Polda Sumut, karena ini telah mencederai Polri,” jelasnya.

Terkait pernyataan Siti, Kapolsek Tanjung Morawa, AKP Sawangin Manurung saat dikonfirmasi awak media, membantah tuduhan kalau pihaknya ada melakukan pemerasan terhadap Pasutri yang sempat ditahan karena diduga melakukan pencurian handphone.

Perwira pertama tingkat tiga Polri ini menegaskan kasus dugaan pencurian yang dilakukan oleh pasutri atas nama Siti Nuraisyah dan Muhammad Fajar itu tetap dilanjutkan. Keduanya disebut sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencurian.

“Silahkan saja dia ngomong, itu hak dia. Yang penting perkaranya maju dan tinggal nunggu P-21.

Bisa saja dia ngomong seratus juta atau lima puluh juta bahkan satu milyar, itukan hak dia. Yang penting kita tidak ada melakukannya,” ujarnya.

Kapolsek menyebut apa yang dilakukan oleh keduanya sudah memenuhi unsur-unsur sesuai pasal pencurian.

Diutarakannya, karena handphone yang didapat di Suzuya sudah dibawa pulang ke rumah keduanya pun dianggap sudah melawan hak.

“Modusnya pencurian. Kalau dia menemukan handphone itu harusnya dia melaporkannya ke security bukan dibawa ke rumah selama tiga (3) hari.

Alasannya saja itu mau diserahkan, mungkin dia sudah tau mau nuntut yang punya. Itukan modus dia,” kata AKP Sawangin.

Kapolsek Tamora ini pun mengakui kalau sebelumnya pasutri itu bisa keluar karena ada penangguhan penahanan.

Saat ditanyai lebih lanjut apa yang menjadi alasan disetujuinya penangguhan penahanan, ia hanya menyebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan umum saja.

“Kemarin kita nilai karena dia bisa koperatif dan tidak menghilangkan barang bukti ya kita lakukan (setujui).

Nggak mungkin dia kita lepas kalau tidak ada permohonan, kecuali nggak terbukti satu kali 24 jam kota lepas supaya tidak melanggar, demi hukum kalau seperti itu kita keluarkan. Sekarang intinya lanjut dan tinggal tunggu P-21,” jelasnya.

(SN Gomedan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI