oleh

Warga Resah Perambahan Hutan Terjadi di Desa Bandar Baru

GO MEDAN – Warga merasa resah dengan ulah oknum tak bertanggung jawab terus-menerus melakukan perambahan hutan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) tepatnya di tekongan Amoi atas Dusun III, Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Provinsi Sumatera Utara, Sabtu (20-02-2021).

Kegiatan perambahan hutan akan merugikan kelestarian ekosistem hutan, kerusakan vegetasi, kerusakan lahan dan berpotensi untuk menyebabkan bencana alam seperti banjir, longsor, dan kekeringan.

Loading...

Selain keresahan warga Desa Bandar Baru khususnya Dusun III Tekongan Amoi juga ketakutan akan terancam sumber air kering dan terjadi longsor maupun banjir bandang.

Hendra Lius Bangun, warga Desa Bandar Baru mengatakan, lokasi perambahan Hutan di Desa Bandar Baru itu dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab, dengan cara memotong kayu-kayu hutan yang seharusnya menjadi penyangga air dan tanah agar tidak terjadi longsor.

Selain itu, tambah Hendra, usai kayu dipotong terlihat ada beberapa berupa patok terpasang yang telah di blok serta tali plastik warna kuning dibentangkan seperti sudah terukur. Sehingga, warga menduga usai hutan dirambah maka “hutan dan tanah ini akan dibagikan kepada oknum tertentu”.

“Perambah hutan ini melakukan aksinya secara licik, jika kita melintas sepanjang jalan Jamin Ginting persisnya diatas tekongan Amoi hingga perbatasan Deli Serdang – Karo tidak ada terlihat kayu yang ditebang, seolah olah tidak ada terjadi perambahan hutan. Namun jika kita masuk sekitar kurang lebih 20 meter kedalam kawasan terlihat areal sudah rapi siap untuk ditanam sekitar 7 hektar, kayu-kayu yang telah dipotong terlihat banyak yang berserak dilokasi,” ujar Hendra dan warga lainnya di sela-sela penanaman pohon Damar 250 batang.

Sementara itu, Kepala UPT Tahura Bukit Barisan Tongkoh Tanah Karo, Fendi Siadari, diwakili Asido Munthe ketika dikonfirmasi awak media, bahwa pihaknya membantah akan isu tentang izin kelompok tani yang merambah dan menggarap kawasan konservasi Tahura yang dikeluarkan pihak kehutanan apalagi membagi bagikan lahan hutan.

“Namun klo izin untuk menanam pohon atau penghijauan itu kita dukung dan bersyukur kepada masyarakat masih ada warga yang peduli dengan hutan,” ucap Asido Munthe.

Tak hanya itu, menurut sumber yang dipercaya mengatakan, bahwa para oknum perambah hutan Tahura itu sebelum melakukan aksinya diduga terlebih dahulu membuat kelompok tani penanam pohon dengan dalih ijin ke pihak Kehutanan. Namun ijin dan restu pihak kehutanan disalah gunakan oleh oknum tertentu.

“Warga jengkel, marah dan geram maka dilaporkan ke UPT Tahura Bukit Barisan Tongkoh Tanah Karo,” tandas sumber tadi.

Selanjutnya, Kepala Desa Bandar Baru Binsar Sitepu, hendak ditemui awak media dikediamannya untuk upaya konfirmasi, belum berhasil disebut karena sedang sibuk.

(Gomedan, Sumut)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI