banner 468x60

Beli Sebidang Tanah Melalui Perantara, Boru Sinurat Tidak Dapat Sertifikat

 UMUM
banner 468x60

TOBASA (Go Medan)

Akibat membeli sebidang tanah melalui perantara, korban Yusni Hotmaria Sinurat (62) sampai hari ini tidak mendapat surat sertifikat padahal dirinya sudah melunasi pembayaran sesuai kesepakatan sebelumnya kepada pemilik tanah, Togu Siahaan.

Data yang diterima dari Lambas Tony H. Pasaribu, SH. MH selaku Kuasa Hukum korban kepada awak media, Kamis (30/05/2019) menceritakan, bahwa pada tanggal 12 Juli 2018 sekira pukul 12:00 WIB, terlapor Elyana Yosifin Siahaan (50) warga Lumban Silintong Cafe Putri Tao, Kec. Balige, Kab. Tobasa bersama rekannya inisial HS, LP, RLP datang ke rumah korban di Jalan DI Panjaitan, Kec. Balige, Kab. Tobasa untuk menawarkan sebidang tanah milik Togu Siahaan yang terletak di Jalan Pematang Siantar dengan ukuran 33 x 9 Meter.

Kemudian terlapor Elyana Yosifin Siahaan menunjukan bukti kuasa menjual tanah dari pemilik Togu Siahaan yang beralamat di Jalan Uma Rihit Hutabagasan Siahaan, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa kepada korban. Selanjutnya terlapor mengatakan bahwa pemilik tanah butuh dana untuk berobat jantung.

Sehingga atas dasar percaya dan niat baik, korban selaku pembeli dan terlapor Elyana Yosifin Siahaan sepakat harga tanah tersebut Rp 1.050.000.000 (Satu Milyar Lima puluh Juta Rupiah).

Lalu korban atau pembeli memberikan panjar atau uang muka Pembelian Tanah sebesar Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) yang disaksikan oleh HS, LP, LRP dan masing – masing memberikan tanda tangan di kwitansi pembayaran diatas meterai sebagai bukti sah pembayaran oleh Korban dan kemudian berencana mengajukan AJB (akta jual Beli) ke Notaris setelah pemilik tanah, Togu Siahaan pulang berobat.

Kemudian pada tanggal 25 Juli 2018, HS datang lagi disuruh oleh Terlapor Elyana Yosifin Siahaan untuk meminta uang penambahan panjar /uang muka sebesar Rp 50.000.000 (Lima puluh juta rupiah) kepada korban.

Korban percaya karena sebelumnya Terlapor Elyana Yosifin Siahaan mengatakan kepada dirinya bahwa HS adalah anak dari pemilik tanah, Togu Siahaan pada saat Transaksi jual beli tanah dimaksud sehingga korban semakin percaya dan membeli tanah Togu Siahaan, pada saat HS meminta penambahan uang panjar pembelian tanah tersebut korban menyerahkan kepada HS.

Selanjutnya tanggal 8 Agustus 2018, korban melalui anaknya Bukkulan Eko R Napitupulu telah menyetorkan uang pelunasan tanah dimaksud kepada Rekening BRI dengan No Rekening 031401000224564 atas nama terlapor Elyana Yosifin Siahaan sebesar Rp 800.000.000 (delapan ratus juta rupiah).

Setelah korban melaksanakan kewajiban sebagai Pembeli yang taat perjanjian dan Kesepakatan terhadap transaksi jual beli terhadap tanah dimaksud ironisnya sertifikat tanah belum kunjung juga diberikan kepada korban.

Justru perantara itu mengurus sertifikat tanah (Togu Siahaan) dan dipindahtangankan kepada inisial JT (54).

Anehnya lagi JT yang diketahui mantan caleg Provinsi dari PDIP dapil 9 Sumut yang kebetulan kalah dalam pileg yang lalu dengan sepihak telah mengolah tanah terperkara sementara tanah tersebut masih status quo karena belum ada putusan yang inkrah.

Merasa dirugikan kemudian pelapor membuat laporan di Polres Tobasa yang tertuang dalam Surat Tanda Bukti Lapor Nomor: STBL/177/IX/2018/SU/TBS, Selasa (25 September 2018) namun sampai sekarang masih mengambang hampir setahun lamanya dan belum sampai pada penetapan tersangka padahal bukti penyerahan uang dan saksi sudah lengkap diperiksa oleh penyidik.

Selain dilaporkan secara pidana tindakan perantara, Elyana Yosifin Siahaan yang diduga melanggar 372 dan 378 KUHPidana beserta 3 orang lain berinisial HS, LP, RLP masing -masing berperan sebagai perantara dalam jual beli tanah tersebut.

Korban juga sudah menggugat secara Perdata ke Pengadilan Negeri Balige dengan perkara No 59 /Pdt.G/ 2019/ PN.BLG,” jelas Candidat Doktor Ilmu Hukum.

Sedangkan Sertifikat sudah diblokir di BPN Tobasa dan tidak bisa dialihkan atas nama siapapun sampai adanya putusan yang inkrah,” tambah penasehat hukum korban.

Lambannya proses perkara ini hampir setahun lamanya di Polres Tobasa sudah memberikan celah timbulnya perkara baru yaitu penyerobotan tanah yang dilakukan oleh JT yang merupakan saudara atau diketahui suami mereka abang beradik dengan Terlapor Elyana Yosifin Siahaan,” sebutnya.

Atas hal itu, Lambas juga meminta kepada Kepolisian dan Jaksa agar persoalan kepemilikan tanah tidak carut marut.

“Selain itu agar tidak menimbulkan masalah yang berpotensi konflik, kita harus dukung program Presiden Jokowi untuk pendaftaran dan penegasan status kepemilikan tanah masyarakat,” pungkasnya mengakhiri.

Perihal dugaan surat laporan korban Yusni Hotmaria Sinurat di Polres Tobasa dalam kasus penipuan dan penggelapan disebut-sebut mengambang hampir setahun lamanya, Kapolres Tobasa, AKBP Agus Waluyo saat dikonfirmasikan 01 Juni 2019 pukul 08:17 WIB sampai berita ini diturunkan, Senin (10/06/2019) belum ada tanggapan.

Sedangkan ketika dikonfirmasikan kepada penyidik Fridoni Sitorus yang menangani perkara tersebut, 01 Juni 2019 pukul 10:28 WIB mengatakan, Ok, mungkin nanti bapak kapolres atau pak kasat reskrim yang balas,” sebutnya.

(Tobasa, GM)

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan