banner 468x60

Angkutan Udara Mempengaruhi Kemajuan Bidang Pariwisata

 Wisata
banner 468x60

Go Medan

Angkutan udara sangat mempengaruhi kemajuan Industri bidang Pariwisata di Indonesia terlebih di pulau sumatera, salah satu yang dijadikan kota wisata.

Dalam hal ini, Pemerintah telah mengusahakan berbagai fasilitas akomodasi, biro perjalanan, promosi, rekreasi, pemasaran, penyediaan sarana angkutan darat, laut maupun udara, pendidikan kepariwisataan, kemudahan wisata ke Indonesia maupun investasi di bidang industri pariwisata yang diharapkan sebagai sumber pemasukan devisa kedua atau ketiga sesudah migas.

Kemajuan bidang kepariwisataan, angkutan udara komersial merupakan faktor penting, mengingat mayoritas angkutan wisata adalah melalui udara. Pada awal kelahiran penerbangan, pesawat udara dipakai sebagai sarana perang.

Pengalaman perang dunia pertama mengajarkan, bahwa pesawat udara dapat dipakai sebagai angkutan udara komersial, namun demikian sampai konvensi Paris 1919 disahkan, angkutan udara komersial belum menjadi kenyataan, karena konvensi tersebut belum mengatur pertukaran hak-hak penerbangan (traffic right).

Usai perang dunia kedua berakhir, disadari sepenuhnya bahwa pesawat udara dapat dipakai sebgai sarana angkutan udara komersial yang dapat meningkatkan kemakmuran sutau bangsa, memperpendek jarak mempersingkat waktu yang tiba gilirannya mempererat persahabatan antar bangsa, mencegah timbulnya perang dunia dan dapat memelihara perdamaian dunia.

Dengan pertimbangan itu, di Chicago diadakan konperensi yang membahas pertukaran traffic right, walaupun gagal menyetujui pertukaran traffic right. Kegagalan tersebut tampak jelas dalam pasal 5,6 dan 77 konvensi Chicago 1944. Pasal 5 memberi hak negara anggota untuk mengadakan penerbangangan tidak berjadwal atau carter, walaupun kenyataannya pasal tersebut sulit dilaksanakan, karena berbagai hambatan yang dipersyaratkan oleh negara anggota.

Disebutkan pada Pasal 6 mengatur penerbangan berjadwal yang memberi wewenang negara anggota untuk mengadakan perjanjian angkutan udara timbal balik, sedangkan pasal 77 memungkinkan untuk mengadakan pengoperasian internasional bersama. Telah disadari bahwa pariwisata merupakan salah satu sumber devisa penting. Berbagai usaha baik melalui kerja sama antara perusahaan penerbangan maupun kebijaksanaan pemerintah dalam meningkatkan penerbangan guna melayani wisatawan.

Dilihat dari beberapa rute penerbangan tertentu, sering perusahaan penerbangan mengadakan kerjasama pengeporasian bersama. Di Afrika, Air Zimbabwe dan Lufthansa mengadakan pengoperasian bersama rute Hrare dan Frankurt melalui Athena, sedangkan di Eropa, British Caledonia dan Ozark Airlines mengadakan pengoperasian bersama rute Amerika Utara dan Eropa.

Perusahaan Garuda Indonesia juga telah menjalin kerjasama dengan MAS, Cathay Pasific, China Airlines, Thai International dan KLM. Di samping itu juga menyelenggarakan berbagai paket wisata seperti Bali Package, Borobudur Package, Nusa Dua Executive Package dan lain-lain.

(Osriel Limbong)

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan